Review Buku

Kerennya Film Sultan Agung Tirtayasa!

Jadi emang ceritanya aku udah pengen nonton film ini dari lama. Tapi ya baru kesampean semalem. Haha

Niatnya pas film itu ngetrend gitu ya, pengen nonton langsung di bioskop. Tapi karena satu dan lain hal akhirnya hal itu tidak terwujud.

Udah gitu, aku cari-cari tuh di Hooq di maxtream ga dapet juga. Entah akunya yg emang gak maksimal nyarinya atau emang gak ada di situ. Nahhh, baru-baru kemarin berhubung lagi ada kuota OMG telkomsel, aku coba download iflix. Sebelumnya sempet denger juga dari beberapa orang kalau Iflix ini cukup menarik. Jadi aku jajal deh. Dan Alhamdulillah bener ada di Iflix! Langsunglah aku tonton Film Sang Sultan Agung Tirtayasa yang berdurasi hampir 3 jam ini.

***

Tahta, Perjuangan, dan Cinta

Raden Mas Rangsang yang ternyata adalah Putra Panembahan menaruh hati pada Lembayung, anak Lurah yang lama hilang. Lembayung pergi mencari Kakangnya, Seto, yang hilang saat ke brang Wetan. Raden Mas Rangsang dan Lembayung sudah sejak kecil belajar di Padepokan Ki Jejer.

Tahta

Saat Raden Mas Rangsang sedang melakukan rutinitasnya belajar dan berlatih di padepokan Ki Jejer, tiba-tiba ada pasukan dari Keraton datang menjemput sang Pangeran yang sedang menyamar.

Kondisi Istana sedang genting. Panembahan ditemukan wafat tiba-tiba. Sementara istri pertama Panembahan memiliki anak laki-laki dengan kondisi tunagrahita. Raden Mas Rangsang yang adalah putra dari istri kedua panembahan menjadi satu-satunya pewaris tahta yang bisa diharapkan.

Jika bisa, sesungguhnya Raden Mas Rangsang yang sebenarnya adalah Pangeran Martopuro, ingin menolak takdir tersebut. Tetapi karena satu dan lain hal konflik di istana, serta hasil penunjukan langsung dari Panembahan dan Sunan Kalijaga akhirnya Pangeran Martopuro bersedia menerima Tahta tersebut.

Perjuangan

Tahun demi tahun berlalu, hingga Pangeran Martopuro yang sekarang bergelar Susuhunan Agung Hanyokrokusumo harus berhadapan dengan VOC.

Berita demi berita negatif yang datang tentang VOC membuat Susuhunan Agung Murka hingga akhirnya memutuskan perang melawan VOC di Batavia.

Keputusan tersebut banyak mendatangkan perlawanan dari orang dalam istana. Mulai dari pamannya sendiri, orang terdekat yang awalnya dipercaya, hingga Lembayung sendiri dengan beraninya menyampaikan langsung permohonan untuk menghentikan perang. Tetapi Susuhunan Agung tetap dalam keputusannya. Ia menjelaskan bahwa perang ini bukan untuk dirinya, perang ini bukan semata mengorbankan nyawa rakyat Mataram, tetapi perang ini adalah untuk ratusan tahun ke depan. Agar bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang berani dan punya harga diri. Tidak sudi begitu saja bekerja sama dengan VOC. Susuhunan Agung sudah tau jika cara lain yang ditempuh, yaitu bekerja sama dengan mereka, maka lama-lama pribumi juga akan jadi kacung-kacung mereka. Apalagi mengetahui kerajaan-kerajaan sebelumnya juga sudah dihancurkan lebih dulu oleh VOC. Maka tidak ada cara lain, selain menyerang lebih dulu. Mengusir kaki-kaki mereka agar hengkang dari tanah air.

Setelah lumbung-lumbung padi pasukan Mataram dibakar, pasukan tetap mencari cara agar bisa menaklukan VOC. Mereka memenuhi sungai Ciliwung dengan bangkai hingga air di sekeliling benteng VOC tercemar. Pimpinan VOC, Coen terkena kolera. Tidak lama setelah itu, Susuhunan Agung dari Mataram mendatangi Coen dengan ilmu lepas dari raga. Susuhunan Agung menjelaskan alasan mengapa perlawanan ini terus dilakukan. Walaupun sebagian ada yang berpihak pada VOC, tetapi banyak dari rakyat juga memiliki harga diri. Coen tertawa terbahak-bahak, tidak lama setelah itu ia mati.

Cinta

Susuhunan Agung sadar bahwa memang akan banyak korban. Tapi bibit-bibit baru juga akan muncul. Saat beliau sedang berkeliling desa, banyak anak-anak yang menanyakan bapaknya. Padepokan Ki Jejer yang biasanya ramai, menjadi sepi, tidak terawat.

Susuhunan Agung bertemu Nyai (Istri Ki Jejer) dan meminta izin untuk menghidupkan kembali padepokan. Beliau sendiri yang akan langsung mengajar anak-anak.

Pasukan yang telah kembali, semuanya berkumpul di Istana. Ki Jurukithing seenaknya bilang mereka harus dihukum karena kalah. Tetapi Susuhunan Agung dengan bijak menyampaikan kalau mereka harus pulang pada keluarga mereka. Beliau bilang kalau kita sudah menang, karena sudah berani melawan. Beliau juga menyampaikan agar para kaum lelaki ini mengajari anak-anaknya untuk cinta tanah air.

***

Memang di film ini ada sedikit kejanggalan antara judul dengan kisah di dalamnya. Tidak ditemukan bagian yang menyebutkan bahwa Susuhunan Agung inilah yang dimaksud sebagai Sultan Agung Tirtayasa.

Peran dari Istri Sultan Agung yang merupakan Putri dari Batang, terlihat sedikit sekali dan tidak ada konflik yang begitu nyata. Padahal sebelumnya Sultan Agung telah menaruh hati pada Lembayung.

Walaupun begitu, pelajaran yang bisa diambil adalah dengan rasa cinta yang besar kepada tanah air dan rakyatnya, juga guru-gurunya, Susuhunan Agung mampu meninggalkan perempuan yang dia cintai. Tidak terpengaruh oleh berbagai hasutan atas keputusan yang telah beliau ambil.

Film ini benar-benar mencontohkan perjuangan dan nilai-nilai positif pahlawan bangsa sejak zaman dahulu. Membangkitkan semangat dan juga rasa syukur, bahwa sekarang sudah merdeka. Masalan tentu akan tetap ada, dalam wujud yang beda. Tapi semangat perjuangannya haruslah tetap sama. Tidak boleh kalah dengan generasi terdahulu.

Secara keseluruhan film ini sangat bagus untuk dilihat. Apalagi banyak stakeholder yang ikut mendukung film ini. Terlihat untuk syuting juga totalitas sekali.

~Ada yang mau berbagi ceritanya tentang film ini? Yuk ke kolom komentar šŸ™‚

Author

rahmasafira
rahmasaf@rahmasafira.com
Life is a fight. Tugas kita adalah berusaha. Tentang hasil, serahkan semuanya pada Yang Kuasa.

Bagaimana komentarmu? :)

%d bloggers like this: