Review Buku

Mengapa Ajengan Hamid diburu Anjing?

Rahma Safira – Tertulis di sampul bukunya, Sehimpun Cerita tentang Siapa Sebenarnya Ajengan Hamid sebelum Diburu Anjing-Anjing dari penulisnya yang bernama Restu A Putra. Penerbit dari RUA AKSARA. Buku ini adalah cetakan pertama, Oktober 2019. Terdaftar ISBN dengan nomor 978 623 7258 34 6.

***

Buku yang dinanti-nanti nih, karena penasaran banget sama isinya. Alhamdulillah pas buku ini sampe ke rumah, sayang sekali gak bisa langsung aku baca. Aku masih belum pulang. Eh pas pulang, cuma sempet buka bungkusnya doang dan belum selesai baca. Harus pergi lagi. Baru bisa balik sekitar 5 hari berikutnya. Baru deh bisa baca. Saat baru saja aku mau baca, ternyata Ibuku udah selesai baca duluan. Wkwk Waduh semangat banget si mamih. Apa karena bukunya tipis dan covernya menarik ya jadi dibaca sampe selesai tuh. Bahkan sebelum aku baca.

Sekilas Isinya

Buku ini adalah kumpulan cerita tentang Ajengan yang jadi panutan banyak warga di sekitar. Cerita demi ceritanya tidak disatukan dengan alur maju, tetapi alur campuran. Perlu kecermatan untuk menyatukan kisah-kisahnya.

Ajengan Hamid dikisahkan memiliki pesantren dengan banyak murid/santri. Singkat cerita, setelah bertemu dengan Rofidin keyakinan dan ajaran Ajengan Hamid berubah. Hal itulah yang menjadi titik balik dalam hidupnya. Sejak itu Ajengan Hamid jadi buron. Keluarganya juga tak luput dari kejaran dan target pelampiasan.  Istri dan kedua anak perempuannya harus menanggung beban mental dan perihnya kenyataan atas keyakinan yang diajarkan Ajengan Hamid.

Pemahaman Ajengan Hamid yang baru itu dianggap mengganggu sistem Negara yang sudah ada, dianggap mengganggu nasionalisme. Padahal sebenarnya ada yang sudah mengincar Ajengan sejak lama, hanya saja bagaimana agar Ajengan bisa ditangkap dengan alasan yang masuk akal, itulah yang dilakukan oleh Rofidin sebagai suruhan dari salah satu pejabat pemerintah. Bagaimana bisa seorang Ajengan yang memahami betul ajaran agama, dapat dengan mudah Rofidin ubah haluannya. Tentunya Rofidin bukan orang biasa. Ada pengalaman dan dorongan yang membuat dia seperti ini.

Dari Sisi yang Terlihat

Yang namanya dilihat pasti yang dinikmati mata. Kalau sepintas melirik, buku ini sudah menarik dari segi desain sampul juga judul bukunya. Siapa tidak penasaran membaca judul buku yang berupa kalimat tanya ini. Ditambah lagi gambar sampul seperti di bawah ini.

Sekilas kalau dilihat dari sampul, ini cerita kayaknya masuk kategori thriller deh. Jadi bikin penasaran gitu. Potongan paragraf (sinopsis) di sampul belakang juga kian menambah penasaran pembacanya.

Seperti biasa, bagian awal buku biasanya mengulang apa yang ada di sampul. Seperti di buku ini, mengulang-ngulang judul bukunya. Pengulangan itu kian membuat pembaca diliputi pertanyaan dan benar-benar ingin mencari tau emang siapa sih Ajengan Hamid sebelum diburu anjing? Kenapa sekarang jadi diburu? Dan banyak pertanyaan lainnya.

Seperti keterangan di sampulnya, buku ini berisi sekumpulan cerita. Ceritanya sudah pasti saling berkaitan. Tapi jujur setelah aku baca sampai selesai, hanya sebagian benang yang bisa aku urai. Aku jadi tau Ajengan Hamid itu siapa, tapi belum begitu jelas menemukan keterkaitan setiap tokohnya. Maklum aku bukan anak sastra banget euy. Karya sastra tinggi seperti ini terlalu pelik bagiku untuk memahami :D. Kepelikan kalimat-kalimat sastra belum terlalu terlatih aku untuk mengungkapnya. 

Kata Demi Kata

Tidak seperti biasanya, aku tak menemukan ada kesalahan pengetikan di sini. Hebat! Biasanya selalu ada saja yang salah ketik. Apalagi untuk buku yang pertama kali rilis. Tapi sejauh ini aku tak menemukan itu. Ini sih mantap banget editingnya. Seperti kebanyakan buku yang nyaman dibaca, buku ini memiliki kertas kuning gading dengan huruf cambria.

Sedikit Kejanggalan

Seperti kata pepatah bahwa tidak ada karya yang sempurna 100 persen. Ada beberapa lokasi kisah di mana aku tidak mengerti bagaimana bisa seperti itu. Agak sulit menyambungkannya dalam visualisasiku. Mungkin yang sedikit aneh adalah penyebutan nama tokoh Alfia dan Humaira. Percakapan di cerita pertama menurutku seharusnya tertulis Alfia, tapi ini malah Humaira. Jadi visualisasi ceritanya agak membingungkan. Jika memang ini benar kesalahan dalam pengetikan nama, memang aku juga sering menemukan hal serupa dari buku lain yang juga pertama kali rilis.

Sejujurnya aku juga belum dapat keterkaitan hubungan antara para Ajengan yang namanya disebutkan di sini. Aku tidak menemukan kalimat yang menceritakan antar ajengan itu saling terkait. Padahal kondisinya setiap Ajengan itu buronan.

Kemudian cerita di bagian tengah ada kejanggalan antara Rofidin dan Sobari. Curigaku mungkin mereka adalah orang yang sama. Bagian terakhir, kisah Hamdan yang sebelumnya mengerang kesakitan, lalu tiba-tiba Hamid dengan santainya hanya mengirim SMS. Aku bingung di sini. 

Penuh Pesan yang Dalam

Buku ini memiliki makna pesan yang dalam. Penyampaiannya tersirat namun dengan cara yang berani. Tentunya perlu tidak sedikit buku dan pengalaman untuk menghasilkan karya seperti ini. Menurutku ini sudah seperti karyanya penulis kawakan. Makna yang dalam, alur campuran, variasi tokohnya kompleks. Isu yang diangkat juga belum berakhir hingga kini, bisa dibilang masih hangat. Masalah keliru penyebutan nama tokoh, adalah hal yang biasa ditemui pada karya-karya penulis lain. 

Tepuk tangan meriah dan penghargaan tinggi buat penulisnya. Tentu tidak mudah untuk akhirnya bisa menerbitkan buku sendiri seperti ini. Sebuah pencapaian yang positif untuk karya-karya ke depan. 

***

barangkali ada yang udah baca juga, yuk bagi-bagi kisah dan pandanganmu di kolom komentar 🙂 

 

Author

rahmasafira
rahmasaf@rahmasafira.com
Life is a fight. Tugas kita adalah berusaha. Tentang hasil, serahkan semuanya pada Yang Kuasa.

Bagaimana komentarmu? :)

%d bloggers like this: