Cerpen dan Puisi

Cerita #1

Sudah lebih dari sebulan kartu SIM yang kupunya masih berstatus sementara. Ia berupa selembar kertas ukuran A5 dengan tulisan hitam. Bagian yang berwarna hanyalah fotoku dan tanda tangan pihak yang memberi. Kesibukan Senin hingga Jumat membuatku tidak bisa ke samsat polres untuk mengambil SIM baru. Untungnya hari Sabtu buka, walau hanya setengah hari. Tepatnya sampai jam 11 pagi. Terima kasih sudah pengertian pada yang beraktifitas penuh Senin-Jumat.

“Permisi, saya mau mengambil sim asli saya,” ujarku sambil mengeluarkan sim sementara milikku.

“Oh ya, silahkan ditunggu dulu. Nanti dipanggil,” kata petugas.

Aku duduk, sambil kembali mengecek HP. Berpikir kapan waktu yang tepat aku harus bertanya padanya. Huft… aku sudah diberi tiket masuk. Kalau aku tidak segera sambut maka kesalahan ada padaku. Sudah diberi peluang tapi tidak kulakukan. Tapi aku malu sangat! Lalu bagaimana ini?

Tiba – tiba ….

“Atas nama Rahma Safira!”

Oh… cepat sekali dipanggilnya. Aku kira akan lama.

“Iya..” sambil aku melangkah ke tengah dan kemudian clingak-clinguk. Kok petugas yang depan aku malah cuek aja ya. Bukannya tadi aku dipanggil. Mungkin mereka heran, kenapa aku malah ke tengah, akhirnya petugas di belakangnya mengisyaratkan aku bergeser ke petugas yang kiri. Sementara petugas yang di depan aku tadi tetap diam aja. Ups, ternyata salah loket hehe.

“Silahkan tanda tangan di sini,” ujar petugas yang masih muda itu sambil mengeluarkan buku panjang dan pulpen.

“Ini SIM nya,”

“Baik. Terima kasih,” kataku.

Alhamdulillah ternyata cepat. Tadinya aku kira akan lama dan akan ada biaya admin lagi. Ternyata tidak ada. Yeaaay.

Cuss pulang deh.

“Loh, udah?” tanya saudaraku yang baru saja membuka pintu saat aku mau ke luar.

“Iya nih, cepat ya.”

Aku memang pergi berdua dengan saudaraku. Biar cepat, pinjam motor dia.

Di depan samsat ada tukang somay dan cilok kuah.

“Mau jajan ga?”

“Mau cilok kuaaah,” kata saudaraku dengan sumringah.

“Mang 2 ya.”

“Siaaaaaap, Neng!”

“Si Mang orang jawa nya?”, Tanya saudaraku itu.

“Muhun, Neng,”

“Si Emang ti mana? Istrina orang dieu Mang?”

“Saya dari Lamongan, Neng. Istri juga sami orang jawa,”

“Ohh, udah lama di sini Mang?” tanyaku.

“Udah 17 tahun, neng.”

Aku dan saudaraku saling berpandangan.

“Rame kitu di Kuningan Mang? Kunaon henteu ka Jakarta atau Bogor kitu mang?

“Ah di Jakarta mah padet pisan, Neng”.

“Nih neng, ciloknya,”

***

Si emang bertahan gitu ya di Kuningan. Jualan cilok kuah. Nggak tau sih sebelumnya pernah jualan apa saja. Dari dulu itu saja atau ganti-ganti. Obrolan tidak terlalu panjang. Kuningan itu kan bisa dibilang kota yang tidak banyak dikenal. seringkali setiap aku sebut kuningan, mereka tanggapi dengan ohhh.. Jakarta yaa -_- Kemudian aku harus sebut Cirebon dulu biar mereka mengerti. Kalau Kuningan itu ada di deketnya Cirebon.

Memang banyak orang jawa di Kuningan. Sampai udah punya rumah, nyekolahin anak, punya usaha atau toko juga.

Katanya memang banyak orang jawa itu yang ulet. Buat usaha sampe bisa ngehidupin keluarga intinya. Jadi mereka itu jarang pulang kampung. Tapi apa iya orang jawa saja? Mungkin kebanyakan memang orang jawa. Tapi bukan berarti orang sunda, dan yang lainnya tidak ada yang ulet.

Beliau saja bisa bertahan ya usaha keliling jualan makanan. Punya rumah, bisa sekolahin anak dan menghidupi keluarga. Memang jalan ada saja bagi mereka yang berusaha dan yakin akan jalan itu.

Jadi ingat cerita orang tua juga. Ada tukang jualan cilok di sekitar rumah. Itu orang dari jaman aku kecil baru bisa jalan sampe sekarang, masih jualan keliling. Dulu sih jualannya es cuing (biasa disebut cincau juga), jualan martabak juga pernah, terus sekarang jualan cilok. Tadinya hanya didorong, sekarang sudah pake motor.

Sebetulnya kebanyakan orang kecil, atau orang di desa betul-betul menerapkan qonaah dalam hidupnya. Mereka menerima keadaan mereka walau terlihat terbatas. Tapi tetap berusaha dan akhirnya tercapai perlahan-lahan maksud dan hajatnya.

Banyak di sekitar kita contoh-contoh orang yang bisa dijadikan pelajaran. Masa mereka saja bisa berjuang sampai seperti itu. Lalu apa kabar kita yang masih diberi banyak nikmat yang lain? Masih tidak menerima keadaan? Masih tidak bersyukur?

***

Masih di Kota Kuda, yang di Selamat Datangnya adalah patung ikan.

Author

rahmasafira
rahmasaf@rahmasafira.com
Life is a fight. Tugas kita adalah berusaha. Tentang hasil, serahkan semuanya pada Yang Kuasa.

Bagaimana komentarmu? :)

%d bloggers like this: