Novel Ki Hadjar: Sebuah Memoar
Review Buku

Mengupas Kisah Hidup Bapak Pendidikan Indonesia

Rahma Safira – Siapa tidak mengenal beliau? Yang tanggal lahirnya kini dijadikan Hari Pendidikan Indonesia. Beliau Ki Hadjar Dewantara yang lahir pada Kamis Legi 2 Ramadhan 1309 H, bertepatan dengan tanggal 2 Mei 1889 M. Perjuangan beliau untuk pendidikan kaum pribumi saat itu sangat gigih. Beliau temasuk tokoh nasional yang berjasa dalam memajukan pendidikan bangsa Indonesia di zaman penjajahan. Segala rintangan dari kaum penjajah beliau hadapi dengan cerdas dan berani.

Haidar Musyafa, penulis asal Sleman yang telah melahirkan banyak karya yang bernas, mengisahkan cerita hidup Ki Hadjar dengan sangat apik dan menarik. Dengan sudut pandang orang pertama, pembaca seperti diajak melihat langsung diari kehidupan Ki Hadjar. Mulai dari beliau kecil hingga akhirnya wafat. Novel berjudul Ki Hadjar: Sebuah Memoar ini terbit pertama  kali pada April 2017. Dengan tebal lebih dari 547 halaman, novel terbitan Imania ini bertekstur kertas kuning dan memiliki bau yang khas. Membuat pembaca nyaman berlama-lama menatap bukunya.  

Masa Kecil Ki Hadjar Dewantara

Ayah dari Ki Hajar Dewantara adalah seorang pangeran di lingkungan Istana Kadipaten Puro Pakualaman. Beliau bernama Kanjeng Pangeran Harjo Soerjaningrat. Sejak muda, beliau telah memiliki kekurangan fisik, yaitu kebutaan. Beliau menerima kenyataan itu sebagai takdir yang harus dijalani dari Gusti Allah.

Ibu Ki Hadjar bernama Raden Ayu Sandijah. Beliau juga termasuk salah seorang keturunan bangsawan Istana Kadipaten Puro Pakualaman. Walaupun sebagai keturunan langsung Sri Paduka Paku Alam III, tetapi keluarga Ki Hajar tidak diperbolehkan tinggal di dalam istana. Hal tersebut karena ayahnya temasuk orang yang gigih menantang penjajah Belanda yang selalu ikut campur mengurusi pemerintahan Kadipaten Puro Pakualaman.

Nama asli Ki Hadjar awalnya adalah Raden Mas Soewardi. Tetapi saat kecil sering disebut Raden Mas Jemblung Trunogati. Saat lahir Raden Mas Soewardi berukuran kecil, lemah dan berperut buncit. Oleh karena itu Ayahnya memberikan dia Paraban (julukan)Jemblung. Sedangkan nama Trunogati adalah pemberian dari Kyai Haji Soleman Abdurrohman yang merupakan sahabat dekat dari Kanjeng Pangeran Harjo Soerjaningrat.

Sejak kecil Raden Mas Soewardi dan kakaknya tidak membatasi diri bergaul dengan kalangan rakyat. Mereka bahkan seringkali bermain bersama. Sayangnya saat harus melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, teman-temannya yang banyak dari rakyat jelata tidak bisa mengikuti. Raden Mas Soewardi sangat sedih, oleh karena itu dia bertekad untk menjadi guru. Agar teman-temannya juga bisa merasakan bangku pendidikan yang lebih tinggi.

Perjuangan untuk Pendidikan Pribumi

Raden Mas Soewardi melanjutkan sekolah di sekolah-sekolah milik Belanda. Di sana beliau bertemu dengan Raden Mas Tjokroaminoto, Tjipto Mangoenkoesoemo, juga Douwess Dekker. Raden Mas Soewardi melanjutkan perjuangannya melawan penjajah dengan menjadi jurnalis, menghasilkan tulisan-tulisan yang membuat gerah kaum penjajah hingga sampai memberikan hukuman buang kepada Raden Mas Soewardi. Tetapi walaupun pernah dihukum buang ke Negeri Belanda, tidak membuat Raden Mas Soewardi berhenti. Beliau tetap meneruskan perjuangan pendidikan Indonesia dan melawan kesewenang-wenangan penjajah semampu yang ia bisa.

Kang Mas Soerjopranoto, kakak Raden Mas Soewardi  juga menaruh perhatian pada pendidikan kaum pribumi. Beliau mendirikan sekolah, dan Raden Mas Soewardi turut menjadi pengajar di sekolah tesebut. Setelah lama mengajar di sekolah Kang Masnya, jiwa Raden Mas Soewardi yang menyukai profesi sebagai pengajar merasa belum puas jika belum memiliki sekolah sendiri dan menerapkan sistem pengajaran yang sudah ada di benaknya. Raden Mas Soewardi kemudian mendirikan sekolah Tamansiswa sebagai wujud kesungguhannya untuk memajukan pendidikan orang-orang inlander (pribumi).  

Raden Mas Soewardi tidak suka adat rakyat dengan kaum ningrat yang masih feodal, yaitu harus membungkuk dan hormat saat bertemu dengan dirinya. Ia merasa hal tersebut malah membuat jarak dengan rakyat kecil. Sejak saat itu beliau hanya ingin dipanggil Soewardi saja oleh kawan-kawannya, tidak memakai Raden Mas lagi. Kemudian setelah ia menjadi pengajar, ia ingin berganti nama. Sebagai seorang pengajar ia ingin agar murid-murid menganggap dia sebagai ayahnya sendiri, sehingga terjalin kekeluargaan yang erat. Setelah lama merenung akhirnya ditemukan nama yang cocok yaitu Ki Hadjar Dewantara.  

Menuju Kemerdekaan

Ki Hajar temasuk orang yang diperhitungkan oleh Soekarno dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Beliau terlibat langsung dalam BPUPKI dan PPKI. Setelah merdeka, Soekarno menunjuk Ki Hajar sebagai Menteri Pengajaran Indonesia.  Setelah proklamasi, masih banyak ancaman yang mengganggu kedaulatan Negara Indonesia. Ki Hajar temasuk orang yang membantu Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Setelah kondisinya cukup kondusif, di masa Republik Indonesia Serikat, Ki Hajar diminta untuk mnjadi DPR RIS. Awalnya beliau menolak tapi karena terus didesak akhirnya beliau menyanggupi. Setelah beberapa tahun menjabat dan merasakan tidak terlalu memberikan perubahan di DPR, maka Ki Hajar yang memang sejak awal lebih memilih bidang pendidikan sebagai jalan perjuangan, akhirnya mengundurkan diri dan akan fokus kembali pada Tamansiswa.

Memoar yang mencerahkan

Kebanyakan tulisan tentang sejarah itu kurang menarik. Membosankan. Bahkan dijadikan pengantar tidur. Tetapi Haidar Musyafa mengubahnya menjadi bentuk novel yang detil dan sangat menarik. Ceritanya mengalir, menceritakan setiap detil kejadian sehingga pembaca seperti ikut terbawa dalam kisah tersebut. Merasakan bagaimana sedihnya kawan-kawan tidak bisa meneruskan pendidikan sementara dia sendiri selaku keluarga kerajaan bisa dengan mudah meneruskan pendidikan. Merasakan bagaimana perjuangan saat diasingkan ke Belanda, bagaimana berkesannya pertemuan dan perjuangan bersama Douwes Dekker yang namanya banyak disebut dalam pelajaran sejarah sebagai orang belanda yang peduli dengan nasib bangsa jajahannya. Tokoh-tokoh yang sezaman digambarkan dengan jelas,  sehingga terbayang Ki Hajar hidup di era siapa, ada tokoh siapa saja yang sezaman dengan beliau. Tergambar dengan jelas bahwa usia Ki Hajar dan tokoh-tokoh lain yang berjuang adalah di usia muda. Mulai dari belasan tahun sampai Indonesia merdeka. Ini benar-benar mengubah sudut pandang pembelajaran sejarah yang umum, yang menganggap bahwa para pejuang adalah orang-orang yang sudah tua. Nyatanya tidak begitu. Dengan penyampaian berupa cerita seperti ini, membuat pembaca lebih mengerti sejarah perjuangan dan merasuk ke dalam pikiran.

Bangsa yang besar tidak akan melupakan sejarah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Jika perubahan untuk lebih mengenal sejarah tidak dimulai dari diri sendiri, maka siapa yang mau diandalkan? Memang masih banyak yang kurang perhatian tehadap sejarah. Ada yang cukup perhatian, tahu, tapi nilai-nilainya tidak masuk dalam dirinya. Boleh jadi pemicu dari luar, seperti cara penyajian sejarah yang lebih menarik memang dibutuhkan untuk menarik minat orang-orang. Setelah tertarik harapannya dapat timbul kesadaran dan mengambil pelajaran dari sejarah tersebut.

Novel ini benar-benar membuat sejarah menjadi lebih menarik. Hanya saja jika ditambah sedikit ilustrasi gambar aku yakin akan lebih memberikan visualisasi yang nyata pada kisah ini. Ilustrasi itu juga berfungsi sebagai pembeda masa perjuangan yang sedang diceritakan. Sedikit janggal di bagian epilog, di mana sejak awal sudut orang pertamanya adalah Ki Hajar sendiri, tetapi di epilog berganti jadi sudut pandang dari Nyi Hajar (Soetartinah).

Pesan Penting

Ada kalimat bagus yang perlu menjadi pengingat para pengajar di negeri ini. Pekerjaan Anda merupakan pekerjaan yang mulia. Menurut Ki Hajar Dewantara tugas seorang pengajar tidak hanya sebatas memberikan materi pelajaran di sekolah. Tapi mengabdikan seluruh waktu yang dimilikinya untuk mendidik dan mendampingi anak-anak didiknya setiap saat, dimanapun, kapanpun, dan dalam kondisi apapun. Selain itu, tenaga pendidik juga harus memiliki keikhlasan untuk menjalankan perannya sebagai orangtua yang dalat membuat anaknya merasa senang, tenang dan nyaman. Sehingga anak-anak itu dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia-manusia yang bermartabat dan berkarakter.

Ki Hajar memberikan contoh orang Indonesia dari kalangan ningrat yang memiliki nasionalisme sangat besar, mencintai rakyat dan tanah airnya. Beliau tidak melihat bahwa ia dari kalangan ningrat dan yang lain hanya rakyat biasa. Beliau menganggap semuanya sama dan layak mendapatkan kebebasan pendidikan ataupun hak-hak lain yang kalangan ningrat dan priayi dapatkan. Rakyat Indonesia berhak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Beliau adalah contoh pejuang yang tidak pernah henti memperjuangkan kemerdekaan dan konsisten menyuarakan hak pendidikan. Tidak gentar menghadapi cobaan dan rintangan. Tetap setia untuk berjuang meraih kemerdekaan Indonesia. Contoh yang sangat perlu diingat dan dijadikan teladan bagi generasi-generasi penerus.

Author

rahmasafira
rahmasaf@rahmasafira.com
Life is a fight. Tugas kita adalah berusaha. Tentang hasil, serahkan semuanya pada Yang Kuasa.

Comments

Avatar
January 22, 2020 at 2:09 am

Tapi masalah terbesar kita adalah mental. Makanya banyak yg gak paham dan gak nyambung dg pendidikan karakter, pun para guru (gak semua).



Avatar
Fadli Hafizulhaq
January 26, 2020 at 7:09 pm

Ki Hadjar Dewantara benar-benar panutan di bidang pendidikan, ceritanya sangat menggugah, dan saya baru tahu kalau itu bukan nama aslinya



Bagaimana komentarmu? :)

%d bloggers like this: