Thoughts

Melihat Lebih Dalam Hal-Hal Kontroversial

Rahma Safira – Kyai Imam Zarkasyi, salah satu dari 3 pendiri pesantren Gontor, selalu senang jika ada tamu yang datang. Siapa saja yang datang ke rumahnya, ia mintakan doa. Siapapun itu, baik itu preman atau warok (sebutan di Jawa Timur), semuanya diminta doa. Sampai-sampai preman itu bertanya, “Kyai, kenapa kok minta doa ke saya? Saya ini kan preman. Saya ini bukan orang baik.” Jawab Kyai Zarkasyi, “Kamu kalau doain orang lain itu jadi makbul doanya.”

Sama-sama mintanya ke Allah, kenapa kok harus minta bantuan orang lain buat berdoa juga? Karena kalau kita sendiri yang minta, hijabnya banyak. Sementara kita ingin agar doa kita cepat terkabul kan? Nah itulah makna sebenarnya tawassul. Kita tetap meyakini bahwa yang mengabulkan permohonan kita, keinginan kita itu hanyalah ALLAH.

Ustadz Azka sudah membuktikan sendiri, di Makam Sayyidina Husein di Mesir itu banyak sekali orang yang berziarah. Lalu Ustadz Azka iseng bertanya, “Hey apa kamu menyembah sayyidina Hussein?” Yang ditanya langsung naik pitam, “Tentu saja tidak! Kau, Shollu ala Nabi!” Orang mesir akan reda marahnya kalau membaca sholawat. Ustadz Azka baca sholawat dan orang itu tidak jadi marah.

Ruh yang Tetap Mendengar

Jadi dari banyak orang yang mendatangi makam, keyakinan mereka yang mengabulkan permohonan mereka hanyalah Allah. Tidak ada yang lain. Kedatangan mereka ke sana hanya untuk meminta tolong kepada orang-orang sholeh agar mengaminkan doa mereka. Agar cepat diqobul. Karena ya itu tadi, jika hanya kita sendiri yang minta, itu hijabnya banyak. Bukan tidak mungkin sampai, tapi jadi lama sampainya. Beda kalau doa kita diaminkan orang-orang sholeh yang dekat dengan Allah. Itulah mengapa juga setiap kita berdoa dimanapun berada lebih baik doa itu diapit dengan sholawat. Sebelum dan setelah berdoa membaca sholawat. Ibarat kata mesin penambah kecepatan agar yang dihantarkan (doa) segera sampai.

Rasulullah pernah mengajak bicara orang yang mati syahid saat perang. Rasul berkata, “Sudahkah kamu menemukan janji Tuhanmu?” Sayyidina Umar yang melihat itu protes, “Yaa Rasul mengapa engkau mengajak mereka bicara? Mereka itu sudah mati ya Rasul.” Kemudian Rasulullah menjawab, “Wahai Umar tidaklah engkau lebih mendengar dibandingkan mereka.” Artinya mereka itu tetap mendengar. Jasad mereka mati, tetapi ruhnya masih bisa mendengar. Setiap kita membaca sholawat pun, Allah mengembalikan ruh Muhammad untuk menjawab sholawat dari umatnya.

Berbeda? Belum Tentu Salah

Seringkali banyak orang kagetan. Lihat orang ke makam bid’ah, liat barjanzi bid’ah, liat berdoa di kubur bid’ah. Bisa jadi hal – hal itu adalah karena belum tau ilmunya. Atau bisa jadi kurang piknik (kata Ustadz Azka).

Sayyidina Umar pernah mendengar seseorang menjadi Imam Sholat tapi bacaan qiro’atnya tidak seperti yang Rasulullah SAW ajarkan. Sayyidina Umar langsung menggeret orang tersebut dan melaporkannya kepada Rasulullah SAW. Tau sendiri bagaimana kalau Sayyidina Umar marah? Setan saja takut pada sayyidina Umar.

Kata Sayyidina Umar, “Ya Rasulullah, orang ini telah melakukan hal yang tidak sesuai dengan yang kau ajarkan!”
Jawab orang itu, “Tidak ya Rasulullah aku tidak melakukan hal yang berbeda dari ajaranmu.”
Kemudian Rasul menyuruh orang itu membaca. Setelah dibaca oleh orang tersebut, Rasul bilang bahwa bacaannya benar. Lalu Sayyidina Umar heran dan bertanya pada Rasul, bukannya yang benar seperti yang aku baca ini? Sayyidina Umar kemudian membaca dan Rasul bilang ini juga benar.

Seperti saat ini, banyak dari kita saling menyalahkan karena berbeda. Padahal bisa jadi berbeda itu karena ternyata ada ilmu yang belum kita ketahui. Seperti kisah sayyidina Umar di atas.

Apa yang harus dilakukan?

Jika memang ada yang menurut kita berbeda atau salah, maka sepatutnya diluruskan. Bukan malah memvonis salah, bukan memenggal kepala mereka, bukan juga mengunggah dan menyebarkan kesalahan mereka di media sosial. Hayoo looo siapa yang kayak gini? Tobat yuk. Sholat taubat. Udah pernah belum? Kalau belum ayo sholat taubat yuk. Ya setidaknya sekali seumur hidup pernah lah. Masa nggak sama sekali sih 🙂 ?

Oh yaa… Baru ingat lagi. Kalau setiap orang bertanggungjawab atas guru yang dipilihnya. Maka selamatkanlah agamamu dengan memilih guru yang selamat. Manusia telah dikaruniai akal pikiran, maka pilihan yang ia pilih adalah tanggung jawabnya.

Dituangkan ke dalam tulisan dari Kajian Sirah Nabi bersama Ustadz Azka di Zawiyah Ar-Raudhah, Jakarta.

Author

rahmasafira
rahmasaf@rahmasafira.com
Life is a fight. Tugas kita adalah berusaha. Tentang hasil, serahkan semuanya pada Yang Kuasa.

Bagaimana komentarmu? :)

%d bloggers like this: