mengapa kita harus bertasawwuf? mengapa pemuda bertasawwuf
Kajian Islam dan Qashidah

Pemuda Bertasawwuf – Mengapa Kita harus Bertasawwuf? (1)

Rahma Safira –  Pernah denger sufi? Pernah denger tasawwuf? Syukurlah jika kalian sudah pernah dengar. Karena ada juga loh yang belum pernah dengar sama sekali. Kalau belum pernah dengar kan jadi ngejelasinnya agak berat ya. Wkwk

Tapi buat kamu-kamu nih yang udah pernah denger, tau gak sih sufi itu apa? Tasawwuf itu apa?

Sebelumnya aku mau kasih tahu dulu kalau tulisan ini diambil dari hasil kajian tentang Tasawwuf yang disampaikan oleh Ustadz Adhli Al Karni, Mahasiswa Universitas Jami’ Qarawiyyin, Fez -Maroko.

Dalam Bahasa Arab bentuk kata yang dimulai dengan ta, fiilnya sa dan bertasydid memiliki makna sesuatu yang diulang-ulang secara sengaja untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Perlu juga dibedakan antara tasawwuf dan ilmu tasawwuf. Ilmu tasawwuf adalah cara-cara menjadi seorang sufi. Sedangkan Tasawuf itu sendiri adalah proses menjadi sufi.

Sufi adalah sebutan bagi orang yang mengetahui ilmu tasawwuf dan menjalankannya. Kalau hanya tahu ilmunya saja tetapi tidak menjalankan maka disebut aliimun tasawwuf.

Ulama banyak sekali membahas apa itu sufi. Kata sufi bisa didapatkan hampir 2000 definisi. Tapi maknanya berputar pada hal tertentu. Sinonim dari kata sufi beberapa di antaranya adalah faqir, fuqoro, ghuroba, jai’in (sering berpuasa) semakin banyak namanya artinya semakin mulia.

Mengapa Pemuda?

Kemudian tentang Pemuda, kenapa lebih dikhususkan ke pemuda? Karena jarang-jarang orang muda mau bertasawwuf. Kebanyakan yang mengambil tasawwuf adalah orang-orang tua. Padahal kan tidak harus selalu begitu. Oleh karena trennya sekarang begitu, sehingga seperti tidak umum jika pemuda bertasawuf. Padahal tasawwuf adalah upaya untuk menjadi baik di hadapan Allah dan hal itu tidak hanya untuk orang tua. Pemuda juga punya keharusan untuk menjadi baik dengan segera.

Pemuda dalam Al-Qur’an sering disebut fathan. Isyarah dari Al – Qur’an bahwa pemuda identik dengan melayani dan membantu. Karena tidak mungkin seorang anak atau pemuda tiba-tiba menjadi pemimpin untuk suatu kaum, kecuali sedikit. Biasanya yang lebih tua umurnya yang menjadi pemimpin, kemudian kaum muda yang membantu. Selain itu sebagai bentuk regenerasi juga. Oleh karena itu, pemuda sebagai calon pemimpin selanjutnya perlu bertasawwuf. Agar saat waktunya tiba memimpin ia telah menjadi manusia lebih baik yang bisa menjadi pemimpin yang baik bagi yang dipimpinnya.

Mengapa Kita Bertasawwuf?

Ada hadits jibril yang isinya tentang pertanyaan Jibril AS kepada Rasulullah SAW tentang Iman, Islam dan Ihsan. Jika ada pertanyaan kenapa kita bertasawuf? Jawabannya karena kita islam. Kenapa kita sholat? Karena kita Islam. Kenapa kita puasa dan zakat? Karena kita Islam. Kenapa kita naik haji? Karena islam. Oke poin terakhir itu masih menjadi suatu impian ya, mari berdoa agar terwujud.

Dalam hadits tersebut dikatakan bahwa ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya, jika engkau tidak melihatNya maka Dia melihat engkau. Artinya ada upaya untuk selalu menjadi baik dimana pun dan kapan pun. Karena kita mengingat bahwa Allah selalu melihat kita bagaimana pun keadaannya.

Tasawwuf adalah bagian dari islam. Ilmu tasawwuf itu punya dua sisi yaitu filsafat dan dzauq (rasa). Kata-kata dalam Al-Qur’an tidak semuanya tentang tauhid ataupun syariat saja. Namun ada juga pembahasan tasawwuf. Seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 2 yang berbunyi “dzaalikal kitaabu la roiba fiihi, hudallil muttaqiin.” Kata Al-Muttaqiin yang artinya orang-orang yang bertaqwa, itu masuk kategori pembahasan tasawwuf. Pembahasan taqwa kepada Allah itu perlu pembahasan dari segi tasawwuf.

Para Sahabat Nabi disebut sahabat karena mereka melakukan shuhbah dengan Rasulullah SAW. Yaitu bergaul rapat dengan Rasulullah SAW. Mereka bergaul rapat, ada yang 6 bulan ada yg beberapa tahun bahkan belasan tahun. Mempelajari tasawwuf tidak bisa seperti ilmu aqidah dan fiqih. Agar bisa mendapat sense sufinya perlu dilakukan shuhbah dengan mereka yang telah menjadi sufi atau telah bershuhbah dengan pendahulunya. Yaitu bergaul langsung dengan para sufi atau pengambil tarekat.

Kebanyakan mengetahui kalau tasawwuf itu ada amalan dzikir yang perlu diistiqomahkan. Memang ada dzikirnya, tetapi mengambil dzikir itu mudah dan sebentar. Yang butuh usaha itu untuk mendapatkan dzauq (rasa) maka harus bergaul dengan mereka.

Untuk bisa menjalani tasawwuf selain perlunya bergaul rapat dengan para sufi (shuhbah), seseorang itu juga harus memiliki irodah, yaitu keinginan mewarisi sifat. Karena jika tidak memiliki irodah, walaupun mereka bergaul rapat dengan sufi maka mereka tidak akan bisa mendapatkannya.

Proses tasawwuf ini juga bersanad. Para sufi itu telah bershuhbah kepada gurunya, yang mana gurunya telah bershuhbah kepada gurunya lagi. Terus begitu bersambung hingga ke Rasulullah SAW, yang memiliki kebaikan yang kamil (menyeluruh). Di dalam proses bertasawwufnya itu ada yang namana Maqoomat, belajar satu sifat ke sifat lainnya dan itu butuh waktu.

Makanya mengapa tasawwuf baik untuk diambil sejak muda. Karena jika diambil saat sudah lanjut usia, maka proses pengerjaannya dua kali. Pertama perlu menghilangkan lebih dulu sifat kurang baik yang ada, baru kemudian diisi yang baru. Jika sudah bertasawwuf sejak kecil, maka pekerjaannya hanya sekali. Tinggal memasukkan saja sifat-sifat yang baik itu. Karena hatinya masih kosong. Tetapi hal ini bukan berarti melarang yang tua untuk bertasawwuf. Tasawwuf dianjurkan untuk diambil sekarang juga oleh siapa saja. Karena tujuan tasawwuf adalah untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi di hadapan Allah.

Jadi semua muslim perlu bertasawwuf. Bergaul dengan yg baik dari sekarang.

#inspirasiramadan #dirumahaja #flpsurabaya #BERSEMADI_HARIKE-16

Author

rahmasafira
rahmasaf@rahmasafira.com
Life is a fight. Tugas kita adalah berusaha. Tentang hasil, serahkan semuanya pada Yang Kuasa.

Bagaimana komentarmu? :)

%d bloggers like this: