Pemuda Bertasawwuf - Mengapa Kita Harus Bertasawwuf?
Kajian Islam dan Qashidah

Pemuda Bertasawwuf – Mengapa Kita Harus Bertasawwuf? (2)

Rahma Safira – Masih dengan tema yang sama seperti kemarin, yaitu tentang pemuda bertasawwuf.

Bagaimana Jika Ingin Bertasawwuf Tetapi di Lingkungan Sekitar Tidak Ada yang Seperti Itu?

Tasawwuf itu bentuknya adalah dimulai dengan iradah dan shuhbah kemudian mewarisi sifat. Jadi pertama yang perlu dilakukan adalah cari. Karena agama ini memang dicari. Tasawwwuf memiliki salah satu gelar yang artinya orang yang suka berkeliling, bertebaran di muka bumi.

Ada salah satu  guru Thariqah Naqsyabandiyah pada suatu waktu merasa gersang. Ia membutuhkan guru untuk bisa mengobati kehausannya itu. Kemudian ia tinggalkan majelisnya dan para pengikutnya, pergi berkhalwat ke Masjidil Haram dan berdoa, meminta petunjuk. Saat sedang khusyuk berdoa, ada yang menegur dan mengganggu sholatnya. Kemudian beliau marah. Kata orang yang mengganggunya itu, “Bukankah kamu cari saya, ya Khalid?”. Seseorang yang mengganggunya itu menyebut namanya, padahal tidak pernah saling kenal sebelumnya. Sang Guru kaget, kemudian tidak jadi marah. Orang yang mengganggunya itu kemudian menunjukkan kepada beliau agar pergi mengambil Thariqah ke India.

Kemudian beliau ke India dan mencari Syekh Fulan. Beliau terus mencari hingga akhirnya ada yang mengetahui Syekh yang sedang ia cari. Dia diantar menemui Syekh yang dicarinya. Dilihatnya seseorang berada di dalam ring tinju. Kemudian ia bertanya, “Saya mencari Syekh Fulan”. Dijawab oleh orang di dalam ring tinju itu, “Marhaban ya Khalid. Aku Syekh Fulan.” Disebut lagi namanya tanpa perkenalan.

Begitulah, Allah mudahkan jalannya untuk menemukan apa yang ia cari. Ada saja caranya. Kalau dipikir-pikir bagaimana bisa tiba-tiba ada orang yang mengganggunya saat berdoa di Masjidil Haram kemudian langsung tahu namanya (padahal belum kenalan) jika bukan diarahkan oleh Allah.

Kata Allah di dalam Al-Qur’an, siapa yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, maka Kami akan tunjukan jalannya. Di antara salah satu tanda orang yang dikehendaki kebaikan, yaitu Allah tunjukkan padanya jalan kebaikan. Jika Allah tidak menghendaki padanya kebaikan, jadi sulitlah bagi seseorang untuk mendapatkan  petunjuk, tidak ditunjukan jalannya. Ya Allah Allahumma inna nas’alukal huda, Ya Allah berikanlah kepada kami petunjukMu.

Kita masih bisa tetap menjadi baik walaupun lingkungan buruk. Setidak-tidaknya mengurangi interaksi dengan orang-orang yang buruk tersebut. Apalagi sekarang sudah tidak ada batasan. Jika tidak ada akses di lingkungan sekitar secara langsung, kita masih bisa terkoneksi dan mencari via smartphone ataupun internet.

Jadi tidak boleh berputus asa walaupun lingkungannya buruk (atau bisa jadi malah diri kita yang buruk). Insyaallah selalu ada jalan, tidak lupa selalu melibatkan Allah dalam segala urusan. Tidak ada yang lebih tahu hajat dan keperluan kita selain Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat.

Orang yang Berpandangan Negatif Terhadap Tasawwuf

Banyak orang yang berpandangan kurang baik terhadap sufi atau tasawwuf. Perlu diluruskan mengenai hal ini. Mengapa ada orang yang berpandangan negatif seperti itu, karena mereka mendapatkan informasi mengenai gambaran yang diberikan oleh orang-orang yang mutasawwif, mirip-mirip sufi. Tapi sebenarnya berbeda. Jelasnya, tasawwuf yang benar itu tidak akan keluar dari syari’at dan tidak akan keluar dari Al-Qur’an dan hadits.  

Imam Junayd Al-Baghdadi adalah salah satu tokoh sufi yang dapat menghadirkan titik temu antara tasawwuf dengan syariat. Sehingga banyak disukai oleh ulama-ulama fiqih dan tidak banyak pertentangan di dalamnya. Imam Junayd juga merupakan salah satu aliran tasawwuf yang diambil oleh ahlussunah wal jama’ah selain Imam Ghazali.

Bagaimana Menjaga Keistiqomahan Bertasawwuf dengan Aktifitas Kita yang Masih Dominan dengan Keduniaan?

Tidak ada pekerjaan kita yang tidak punya sifat keduniaan di dunia ini. Semuanya itu memiliki sifat keduniaan. Tasawwuf tidak pernah menyuruh kita bercerai dengan dunia. Hanya menyuruh agar kita menjadi orang lebih baik. Selamatkan hatimu dan lakukan apa yang kau inginkan.

Bertasawwuf itu bukan berarti kita pindah ke alam lain. Memang ada yang begitu, tapi itu tasawwuf falsafi. Kalaupun bisa pindah itu adalah karomah, tapi itu bukan tujuan. Tujuan tasawwuf itu adalah menjadi orang baik di hadapan Allah.

Tidak ada orang yang meninggalkan keduniaan sebelum dia wafat. Yang ada adalah membersihkan hati dari ketertarikan dunia. Masalahnya adalah jika perkataannya sufi, pakaiannya sufi, perkumpulannya sufi, rumahnya sufi, tapi hatinya masih tertarik dengan dunia, na’udzubillah. Padahal yang harus selamat dari dunia adalah hatinya.

Tasawuf itu bukan dilihat dari baju yang  dipakai. Sayyidina Ali tidak pernah pakai pakaian yang jelek. Tidak semua tasawwuf perlu diperlihatkan secara zhohir (lahir). Cara agar menyelamatkan hati kita tidak selamanya harus sesuai dengan kenampakan. Jika ada kesempatan coba lihat ke Maroko, ada dokter, ada professor, pengusaha, ternyata mereka adalah Thariqah Syadziliyah. Saat mereka dalam pekerjaannya mereka fokus dengan pekerjaannya. Tapi mereka ada kesempatan mengkhususkan waktunya misal 5 menit sehari untuk hanya mengingat Allah tanpa dicampuri pekerjaan yang lain.

Jika belum mengerti benar tentang tasawwuf tapi tetap mengikuti terus majelisnya, maka bukan tidak mungkin lama-lama seseorang itu akan bisa bertasawwuf. Kembali ke poin sebelumnya, tasawwuf itu memerlukan irodah kemudian shuhbah agar bisa mewarisi sifatnya itu tadi.

Apakah Tasawuf itu Hanya Dimensi Hablum Minallah?

Tidak. Tapi juga ada hablum minannaas. Dalam tasawuf falsafi, apa yang ditunjukan oleh makhluk Allah adalah hakikatnya keinginan Allah. Kalau Allah tidak inginkan maka tidak akan terjadi. Hakikatnya ketika kita berinteraksi dengan seseorang adalah kita berinteraksi dengan kehendaknya Allah. Kalau Allah tidak kehendaki, dia tidak akan bisa melakukan suatu hal itu kepada kita. Jadi selanjutnya adalah bagaimana kita bersikap, merespon kehendaknya Allah yang muncul dalam perlakuan seseorang terhadap diri kita.

Sebuah Renungan

Ustadz Adhli bercerita. Tentang pengalaman beliau hingga sekarang bisa menjadi orang Indonesia pertama yang masuk Universitas Jami’ Al-Qarawiyyin.

Saya tidak tahu apakah beliau ridho atau tidak jika saya menceritakan ini. Jadi saya sampaikan intinya saja. Beliau tinggal di Zawiyah Shiddiqiyah di Tangier. Beliau dengan segala keterbatasannya (padahal keterbatasan dia tuh ya nggak bisa dibilang keterbatasan kalau dibandingkan sama yang nulis ini) saat itu bermaksud untuk bisa kuliah di Jami’ Al Qarawiyyin, yang belajar langsung di dalam masjidnya. Sebelumnya belum ada sama sekali dari Indonesia yang kuliah di sana. Akhirnya beliau berikhtiar. Memasukkan berkas ke kampus tersebut, belajar hal-hal yang perlu dipersiapkan kepada Syekh Mun’iem. Selain itu, beliau juga rutin mengirimkan Al-Fatihah kepada keluarga Syekh Mun’iem yang dimakamkan di dalam Zawiyah.

Qadarullah, saat tiba waktunya tes di kampus, semua pertanyaan yang dilontarkan adalah hal-hal yang memang sudah dipelajari oleh Ustadz Adhli. Jikapun ada yang keluar dari yang dipelajari, itu adalah yang memang ustadz Adhli tanyakan kepada Syekh Mun’iem.

Dari kisah tersebut poinnya adalah tidak ada yang tidak mungkin. Kuatkan kesungguhan dan libatkan Allah dalam segala urusan sekecil apapun. Juga bertawassul kepada orang-orang sholeh untuk mendapatkan keberkahan dan kelancaran mewujudkan apa yang dicita-citakan. Tentang

#inspirasiramadan #dirumahaja #flpsurabaya #BERSEMADI_HARIKE-17

Author

rahmasafira
rahmasaf@rahmasafira.com
Life is a fight. Tugas kita adalah berusaha. Tentang hasil, serahkan semuanya pada Yang Kuasa.

Bagaimana komentarmu? :)

%d bloggers like this: